Kita
memang bersama, namun mengapa aku merasa jauh
Kita
berdekatan, namun mengapa mata kita tak dapat bertemu
Adakah
kau merasakan kehadiranku?
Entahlah,
hanya waktu yang mampu menjawabnya…
Aku
memandangmu, namun kau hanya menunduk
Aku
mengajakmu bicara, namun kau hanya menatap lurus padanya
Adakah
kau merasakan kehadiranku?
Entahlah,
hanya waktu yang mampu menjawabnya…
Kawan-kawan,
coba kita renungkan sejenak. Semenjak hadirnya berbagai media sosial di sekitar
kita, apakah kini kita lebih memilih untuk berbaur dan berkomunikasi dengan
orang lain yang berada di sekitar kita? Ataukah kita lebih suka melihat akun
media sosial yang kita miliki? Memang tak dapat kita sangkal bahwa hadirnya media
sosial membawa banyak keuntungan bagi kita. Di satu sisi, media sosial mampu membantu kita dalam melakukan komunikasi jarak jauh dengan lebih mudah dan murah.
Kemudian, bagi orang introvert yang
tak mampu mengekspresikan dirinya secara langsung, media sosial menjadi salah
satu pilihan tepat bagi mereka untuk dapat meluapkan perasaan mereka. Tak hanya
itu saja, namun media sosial juga dapat membawa keuntungan bagi orang yang
sedang mengembangkan bisnis mereka. Media sosial dapat menjadi wadah yang tepat
bagi mereka untuk mempromosikan produk
yang mereka miliki dalam jangkauan yang luas dan dengan harga yang murah,
bahkan gratis.
Namun
kini, cobalah kita membuka mata kita selebar-lebarnya. Ketika kita memandang
sekeliling kita, manakah pemandangan yang sering kita jumpai? Orang-orang yang
dengan riang berkumpul dan berbincang-bincang? Ataukah kumpulan orang yang
raganya berkumpul namun hati mereka tak ada di sana? Mereka lebih memilih untuk
memperhatikan layar hand phone
mereka, mengecek akun media sosial mereka, dan menekan layar hand phone yang bahkan tak mampu
mengucapkan sepatah katapun pada mereka.
Ya,
harus kita akui, walau dengan berat hati bahwa generasi yang ada pada masa kini
di dominasi oleh “generasi menunduk”. Dimanapun kita berada, kebanyakan pemandangan
yang akan kita temukan adalah mereka yang berkumpul bersama namun masing-masing
dari individu asyik dengan dunianya sendiri. Mereka tersenyum, tertawa, serius,
maupun cemberut dihadapan layar hand phone yang bahkan tak mampu membalas
ekspresi mereka. Mereka yang berjalan, namun mata tak mampu menatap ke depan
melainkan menatap ke bawah, ke layar hand
phone mereka. Mereka yang tak mampu sedetikpun melepaskan diri dari hand phone mereka. Miris, namun inilah
kenyataan yang ada.
Media
sosial yang merupakan buatan manusia justru kini berubah mengendalikan manusia.
Media sosial yang seharusnya diciptakan untuk membantu dan mempermudah
pekerjaan manusia justru membuat manusia memiliki ketergantungan yang hebat
padanya. Apakah kita mau kondisi ini berlangsung terus menerus? Apakah kita mau
selamanya ditundukkan oleh media sosial ciptaan manusia? Tentu kita memilih
untuk menaklukkan media sosial dan bukan malah ditundukkan oleh media sosial.
Lantas, apakah kini kita
tak boleh menggunakan media sosial lagi? Tentu saja kita tetap boleh
menggunakannya! Namun, ada satu hal yang harus kita ingat dan kita simpan di
dalam pikiran kita. Sebagai generasi yang cerdas, kita harus memulai dari
diri sendiri untuk dapat menggunakan media sosial yang kita miliki secara
bijak. Jangan sampai kita menjadi salah satu dari generasi menunduk yang ada di
dalam era media sosial ini. Cara kita menggunakan media sosial-lah yang mampu
menentukan apakah ia bermanfaat bagi kita ataukah justru menimbulkan “bencana”,
baik itu bagi diri sendiri, maupun bagi orang lain. Akhir kata, kuasai dan
taklukkanlah media sosial, namun jangan biarkan media sosial menguasai atau
bahkan membuat diri kita tunduk padanya.
“We don’t have a choice on
whether we DO social media, the question is how well we DO it.” – Erik Qualman
Komentar
Posting Komentar