Kala itu, aku sempat berpikir bahwa ternyata cinta tak serumit yang kukira. Seolah menemukan orang yang tepat, dia hadir di depan mataku, membawa cinta dan kejujuran yang tak pernah kutemukan dalam sosok lainnya. Harus kuakui, bahwa kejujurannya yang membuatku jatuh hati. Kejujurannya yang membuatku merasa tak perlu lagi mengandalkan sisi kepekaanku pada kode-kode lelaki. Namun nyatanya, tak ada perjalanan yang semulus jalan tol. Hubungan yang kukira akan berakhir indah, justru kandas di tengah jalan. Sungguh, aku berharap bisa mendampinginya hingga akhir. Tapi ternyata bukan aku lagi yang dia inginkan untuk menjadi pendamping seumur hidup. Dan, tak mengapa. Hubungan memang harus dua arah, bukan? Kalau hanya aku yang yakin, sedangkan dia tak yakin, apa lagi yang harus kuperbuat? Aku bukanlah sosok yang bisa membuatnya berubah dalam sekejap mata. Atau mungkin, tak cukup membuatnya begitu menginginkanku. Untungnya itu hanya kisah lama. Kisah lama yang cukup mewarnai perjalanan panjangk...
Hai! Kamu apa kabar? Tenang, aku tidak berniat mengusik hidupmu kembali. Aku tidak akan menaruh ekspektasi di antara kita. Aku hanya sekadar ingin menyapa, lantas kembali hilang, layaknya embun di pagimu. Aku cuma mau bilang kok. Ternyata semudah itu loh melupakan kamu. Semudah memberikan potongan terakhir cokelat favorit pada orang yang paling kubenci. Semudah memakai sepatu heels untuk keliling mall. Semudah bersandiwara di tengah rapuhnya hati. Intinya, semudah itu ... Dulu kukira, kau juga terluka. Terluka karena tak ada lagi notif chat dariku. Terluka karena tak ada lagi saling kabar. Terluka karena hilangnya kebersamaan yang pernah kita bangun. Terluka, setidaknya satu kali, meratapi kehilangan "kita". Namun ternyata, "kita" tak pernah mampir dan tertulis di buku harianmu. "Kita" hanyalah angan yang kubangun sendiri. Ekspektasiku terlalu tinggi. Kau yang mengetik menggunakan logika, namun kubalas sepenuh hati. Kini ... Aku hanya bisa melihatmu d...