Langsung ke konten utama

Postingan

Labirin Tanpa Ujung

Kala itu, aku sempat berpikir bahwa ternyata cinta tak serumit yang kukira. Seolah menemukan orang yang tepat, dia hadir di depan mataku, membawa cinta dan kejujuran yang tak pernah kutemukan dalam sosok lainnya. Harus kuakui, bahwa kejujurannya yang membuatku jatuh hati. Kejujurannya yang membuatku merasa tak perlu lagi mengandalkan sisi kepekaanku pada kode-kode lelaki. Namun nyatanya, tak ada perjalanan yang semulus jalan tol. Hubungan yang kukira akan berakhir indah, justru kandas di tengah jalan. Sungguh, aku berharap bisa mendampinginya hingga akhir. Tapi ternyata bukan aku lagi yang dia inginkan untuk menjadi pendamping seumur hidup. Dan, tak mengapa. Hubungan memang harus dua arah, bukan? Kalau hanya aku yang yakin, sedangkan dia tak yakin, apa lagi yang harus kuperbuat? Aku bukanlah sosok yang bisa membuatnya berubah dalam sekejap mata. Atau mungkin, tak cukup membuatnya begitu menginginkanku. Untungnya itu hanya kisah lama. Kisah lama yang cukup mewarnai perjalanan panjangk...
Postingan terbaru

Ikhlasku

Hai! Kamu apa kabar? Tenang, aku tidak berniat mengusik hidupmu kembali. Aku tidak akan menaruh ekspektasi di antara kita. Aku hanya sekadar ingin menyapa, lantas kembali hilang, layaknya embun di pagimu. Aku cuma mau bilang kok. Ternyata semudah itu loh melupakan kamu. Semudah memberikan potongan terakhir cokelat favorit pada orang yang paling kubenci. Semudah memakai sepatu heels untuk keliling mall. Semudah bersandiwara di tengah rapuhnya hati. Intinya, semudah itu ... Dulu kukira, kau juga terluka. Terluka karena tak ada lagi notif chat dariku. Terluka karena tak ada lagi saling kabar. Terluka karena hilangnya kebersamaan yang pernah kita bangun. Terluka, setidaknya satu kali, meratapi kehilangan "kita". Namun ternyata, "kita" tak pernah mampir dan tertulis di buku harianmu. "Kita" hanyalah angan yang kubangun sendiri. Ekspektasiku terlalu tinggi. Kau yang mengetik menggunakan logika, namun kubalas sepenuh hati.  Kini ... Aku hanya bisa melihatmu d...

Pergilah...

Dia telah pergi... dan mungkin takkan kembali. Menyisakan seribu tanda tanya, yang mungkin takkan kutahu jawabnya. Andai saat itu aku mencegahnya pergi, akankah dia bertahan lebih lama? Hingga saat ini, aku masih ingat setiap detil tentang dirinya. Cara berpakaiannya, cara berjalannya, cara berbicaranya, cara dia memandangku, dan caranya memperlakukanku. Entah mengapa, namun saat aku bersamanya, aku merasa spesial. Bagai menemukan jarum di atas tumpukan jerami, seberuntung itulah aku, saat menemukannya. Dia yang dulu kuharapkan menjadi takdir dan ujung pencarianku. Dia yang kudambakan menjadi bagian dari masa depanku. Aku masih ingat, bagaimana riangnya aku menceritakannya di depan teman-temanku. Bagaimana topik tentang dia menjadi yang utama untuk dibahas. Aku yang ragu dan dilema. Takut diangkat tinggi, lalu dihempaskan sedalam mungkin. Hingga akhirnya, ketakutankupun benar-benar terjadi. Masih terngiang di benakku, kala dia ucapkan janji manisnya tuk mengajakku ke tempat yang jau...

Wahai Hati yang Terluka...

Ketika mencintainya terasa salah, namun kamu tetap meneguhkan hatimu. Ketika mencintainya terasa menyakitkan, namun kamu tetap bertahan dengan pendirianmu. Ketika mencintainya terasa melelahkan, namun hatimu tak kenal kata menyerah. Hingga akhirnya hatimu lelah berjuang. Berjuang untuk akhir yang sia-sia. Namun kamu tahu bahwa proses yang kamu lalui akan terbayarkan. Kamu akan kagum dengan ketulusanmu mencintai. Kagum bahwa hatimu sanggup berjuang sejauh ini. Kagum akan ketekunanmu mendapatkan hatinya. Kini, tenanglah wahai hati yang masih terluka. Tak perlu buru-buru mencintai kembali. Tatalah hatimu yang runtuh berkeping-keping, hingga kamu siap mencintai kembali. Mencintai, dengan segala resikonya. Dan mungkin, kembali terluka di kemudian hari. 

Jangan Ada Sesal di Antara Kita

Senyum sumringah terpancar dari wajahnya yang bercahaya. Matanya fokus menatap layar televisi jadul miliknya. Suara para anggota grup srimulatlah yang mewarnai malam kami hari ini. Namun sesekali, suara tawanya juga turut memecah keheningan ini. Aku? Disana aku hanya berbaring, menatap kosong televisi, sambil sesekali tertawa. Kala itu, aku hanya sesosok anak kecil, yang bahkan dianggap pupuk bawang oleh saudara-saudaraku. Satu yang kuingat dari memori tersebut, adalah bahwa aku menikmati saat-saat itu. Tidak ada kegiatan spesial, namun semua begitu berarti. Seiring berjalannya waktu, memori itu justru melekat begitu dalam di benakku. Namun kali ini, kenangan tersebut meninggalkan kesan yang sangat dalam untuk hidupku. Ya, pikirankupun melayang kembali ke masa itu. Orang tuaku beserta dengan saudara-saudaranya memutuskan untuk membawa nenekku ke Surabaya. Setelah nenek divonis mengidap pneumonia, keluarga besar kami langsung memutuskan untuk merawat dan mengobati beliau. ...

TERUNTUK, KAMU...

Hei, apa kabarmu hari ini kawan? Aku harap semua baik-baik saja. Dengan apakah kau menghabiskan waktumu hari ini? Apapun itu, aku harap semua tak membuat bahagiamu sirna. Ya, semua tahu dan merasakan beratnya keadaan hari ini. Namun satu yang aku tahu bahwa kamulah yang menentukan mood-mu. Tak perlu meratapi kondisi ini terlalu lama. Ingat, "badai pasti berlalu". Tahun 2020 ini menjadi tahun yang sangat berat untuk dilalui. Semua berubah dalam sekejap mata. Hal-hal yang aku kira tak akan goyah, lenyap seketika. "Tak ada yang abadi", terasa nyata kali ini. Banyak orang kehilangan mata pencahariannya. Keadaan ekonomi yang awalnya berat, menjadi semakin berat. Semua orang harus mulai memutar otak untuk sesuap nasi. Apapun dilakukan demi bertahan hidup. Tak hanya dari sisi ekonomi, kondisi sosial dan psikologispun berubah. Pertemuan dan kontak sosial menjadi terhambat. Rasa kangen-pun kadang hanya bisa diatasi secara virtual. Namun yang paling bera...

Resensi Film - Grace Unplugged

Kuletakkan Impianku, Kuikuti Jalan-Mu Judul      : Grace Unplugged (2013) Genre    : Christian Musical Drama Film Pemain : AJ Michalka (Gracie Trey)               : James Denton (Johnny Trey)                : Kevin Pollak (Frank Mostin)               : Shawnee Smith (Michelle Trey) Durasi   : 102 menit   Tak dapat kita pungkiri bahwa impian merupakan bagian dalam kehidupan masing-masing individu. Setiap orang tentu akan berusaha untuk menggapai impian yang mereka miliki, walau pada akhirnya ada “harga” yang harus mereka bayarkan untuk semua itu. Namun, apakah kita akan tetap membulatkan tekad untuk menggapai mimpi tersebut apabila pada akhirnya kita harus meninggalkan Sang Pencipta dan keluarga kita? Ataukah akhirnya dengan langkah mantap kita memutuskan untuk merelakan impian itu pergi? Ya, bukanlah ...