Dia telah pergi... dan mungkin takkan kembali. Menyisakan seribu tanda tanya, yang mungkin takkan kutahu jawabnya. Andai saat itu aku mencegahnya pergi, akankah dia bertahan lebih lama?
Hingga saat ini, aku masih ingat setiap detil tentang dirinya. Cara berpakaiannya, cara berjalannya, cara berbicaranya, cara dia memandangku, dan caranya memperlakukanku. Entah mengapa, namun saat aku bersamanya, aku merasa spesial. Bagai menemukan jarum di atas tumpukan jerami, seberuntung itulah aku, saat menemukannya. Dia yang dulu kuharapkan menjadi takdir dan ujung pencarianku. Dia yang kudambakan menjadi bagian dari masa depanku.
Aku masih ingat, bagaimana riangnya aku menceritakannya di depan teman-temanku. Bagaimana topik tentang dia menjadi yang utama untuk dibahas. Aku yang ragu dan dilema. Takut diangkat tinggi, lalu dihempaskan sedalam mungkin. Hingga akhirnya, ketakutankupun benar-benar terjadi.
Masih terngiang di benakku, kala dia ucapkan janji manisnya tuk mengajakku ke tempat yang jauh lebih baik. Hingga membuatku berharap akan ada pertemuan selanjutnya untuk kami. Namun ternyata, janji itu diucapkannya tepat pada pertemuan terakhir kami. Semudah itukah dia mengucapkan janji dan mengingkarinya sendiri?
Firasat atau bukan, aku telah menduga hal ini akan terjadi. Namun aku tak menyangka akan berakhir secepat ini. Apakah mungkin ini adalah jawaban dari Sang Pencipta atas doa-doa yang kupanjatkan setiap malam? Entahlah...
Andai saat itu logikaku bermain di atas perasaanku. Aku yang sebenarnya tahu bahwa dia tak pernah menjadikan aku bagian dalam prioritasnya. Namun perasaanku terus mengingkarinya, berharap logikalah yang salah. Berharap itu hanyalah kekhawatiran tak beralasan. Dan lebih jauh lagi, berharap masih ada kesempatan terbuka untukku menjadi bagian dari prioritasnya.
Tapi haruskah dia pergi tanpa pesan? Haruskah dia pergi tanpa meninggalkan alasan yang jelas? Walau sebenarnya aku tak yakin dapat menerima alasan yang dia beri. Atau mungkin memang itu cara yang dianggapnya "pantas" bagi kisah kami? Aku terlalu penasaran... Namun andai alasan itu terucap dari bibirnya, akankah aku lebih bisa menerima perpisahan itu dengan lapang dada?
Namun, nasi telah menjadi bubur. Aku telah terlanjur menaruh hati di tempat yang salah. Hingga akhirnya jatuh dan hancur. Ya, setengah tahun telah berlalu, dan itu cukup bagiku untuk menata hati kembali. Menyambut orang yang tepat, di waktu yang telah Tuhan rancangkan.
Tenang, aku tak akan membuatnya bertanggung jawab atas rasa sakit hatiku. Aku yang salah, pernah terlena pada sikap baiknya. Aku yang salah, membiarkan rasa ini tumbuh terlalu dalam. Aku yang salah karena terlalu berharap.
Sungguh, kini dia boleh pergi. Terima kasih pernah menjadi bagian dari hidupku. Memberi warna dan kisah yang berbeda untuk dikenang. Kini aku akan lebih hati-hati. Hati-hati menjatuhkan hati. Hati-hati dalam memilih pelabuhan terakhirku. Kau tak lagi menjadi bagian dari air mataku. Sudah cukup air mata tercurah. Kini, kau menjadi bagian dari tawaku. Tawa seorang gadis, yang masih tak mampu mengartikan sinyal lelaki. HAHAHAHA. Sungguh, aku tak peka.
Once again, thank you for being a part of my life. Aku tahu, tanpa hadirmu, warna pelangiku takkan lengkap.
Dariku, yang akan selalu mendoakan kebahagiaanmu...
Hingga saat ini, aku masih ingat setiap detil tentang dirinya. Cara berpakaiannya, cara berjalannya, cara berbicaranya, cara dia memandangku, dan caranya memperlakukanku. Entah mengapa, namun saat aku bersamanya, aku merasa spesial. Bagai menemukan jarum di atas tumpukan jerami, seberuntung itulah aku, saat menemukannya. Dia yang dulu kuharapkan menjadi takdir dan ujung pencarianku. Dia yang kudambakan menjadi bagian dari masa depanku.
Aku masih ingat, bagaimana riangnya aku menceritakannya di depan teman-temanku. Bagaimana topik tentang dia menjadi yang utama untuk dibahas. Aku yang ragu dan dilema. Takut diangkat tinggi, lalu dihempaskan sedalam mungkin. Hingga akhirnya, ketakutankupun benar-benar terjadi.
Masih terngiang di benakku, kala dia ucapkan janji manisnya tuk mengajakku ke tempat yang jauh lebih baik. Hingga membuatku berharap akan ada pertemuan selanjutnya untuk kami. Namun ternyata, janji itu diucapkannya tepat pada pertemuan terakhir kami. Semudah itukah dia mengucapkan janji dan mengingkarinya sendiri?
Firasat atau bukan, aku telah menduga hal ini akan terjadi. Namun aku tak menyangka akan berakhir secepat ini. Apakah mungkin ini adalah jawaban dari Sang Pencipta atas doa-doa yang kupanjatkan setiap malam? Entahlah...
Andai saat itu logikaku bermain di atas perasaanku. Aku yang sebenarnya tahu bahwa dia tak pernah menjadikan aku bagian dalam prioritasnya. Namun perasaanku terus mengingkarinya, berharap logikalah yang salah. Berharap itu hanyalah kekhawatiran tak beralasan. Dan lebih jauh lagi, berharap masih ada kesempatan terbuka untukku menjadi bagian dari prioritasnya.
Tapi haruskah dia pergi tanpa pesan? Haruskah dia pergi tanpa meninggalkan alasan yang jelas? Walau sebenarnya aku tak yakin dapat menerima alasan yang dia beri. Atau mungkin memang itu cara yang dianggapnya "pantas" bagi kisah kami? Aku terlalu penasaran... Namun andai alasan itu terucap dari bibirnya, akankah aku lebih bisa menerima perpisahan itu dengan lapang dada?
Namun, nasi telah menjadi bubur. Aku telah terlanjur menaruh hati di tempat yang salah. Hingga akhirnya jatuh dan hancur. Ya, setengah tahun telah berlalu, dan itu cukup bagiku untuk menata hati kembali. Menyambut orang yang tepat, di waktu yang telah Tuhan rancangkan.
Tenang, aku tak akan membuatnya bertanggung jawab atas rasa sakit hatiku. Aku yang salah, pernah terlena pada sikap baiknya. Aku yang salah, membiarkan rasa ini tumbuh terlalu dalam. Aku yang salah karena terlalu berharap.
Sungguh, kini dia boleh pergi. Terima kasih pernah menjadi bagian dari hidupku. Memberi warna dan kisah yang berbeda untuk dikenang. Kini aku akan lebih hati-hati. Hati-hati menjatuhkan hati. Hati-hati dalam memilih pelabuhan terakhirku. Kau tak lagi menjadi bagian dari air mataku. Sudah cukup air mata tercurah. Kini, kau menjadi bagian dari tawaku. Tawa seorang gadis, yang masih tak mampu mengartikan sinyal lelaki. HAHAHAHA. Sungguh, aku tak peka.
Once again, thank you for being a part of my life. Aku tahu, tanpa hadirmu, warna pelangiku takkan lengkap.
Dariku, yang akan selalu mendoakan kebahagiaanmu...
Komentar
Posting Komentar