Kala itu, aku sempat berpikir bahwa ternyata cinta tak serumit yang kukira. Seolah menemukan orang yang tepat, dia hadir di depan mataku, membawa cinta dan kejujuran yang tak pernah kutemukan dalam sosok lainnya. Harus kuakui, bahwa kejujurannya yang membuatku jatuh hati. Kejujurannya yang membuatku merasa tak perlu lagi mengandalkan sisi kepekaanku pada kode-kode lelaki.
Namun nyatanya, tak ada perjalanan yang semulus jalan tol. Hubungan yang kukira akan berakhir indah, justru kandas di tengah jalan. Sungguh, aku berharap bisa mendampinginya hingga akhir. Tapi ternyata bukan aku lagi yang dia inginkan untuk menjadi pendamping seumur hidup. Dan, tak mengapa. Hubungan memang harus dua arah, bukan? Kalau hanya aku yang yakin, sedangkan dia tak yakin, apa lagi yang harus kuperbuat? Aku bukanlah sosok yang bisa membuatnya berubah dalam sekejap mata. Atau mungkin, tak cukup membuatnya begitu menginginkanku.
Untungnya itu hanya kisah lama. Kisah lama yang cukup mewarnai perjalanan panjangku. Yang mungkin tak akan bisa kulupa seumur hidup. Setidaknya memorinya akan selalu menghantui kepalaku. Bukan memori tentang orangnya, tapi pengalaman berharganya. Pengalaman berharga yang cukup mendorongku untuk mengevaluasi kisah cintaku, yang bisa kugambarkan sebagai labirin tanpa ujung.
Bicara soal mengevaluasi kisah cinta, akhirnya aku memutuskan untuk mengawali kembali hobiku yang telah lama mati. Yup, aku berusaha untuk membaca buku lagi. Kala itu, hobiku adalah membaca novel. Namun kini, buku soal memilih pasangan hiduplah yang kubaca. Dibanding berusaha mengisi diri dengan khayalan tentang kisah cinta bak dongeng terindah, aku memutuskan untuk memandang perjalanan cintaku sebagai pemilihan yang bijak karena pengaruhnya akan masa depanku.
Aku selalu berpikir bahwa bahagiaku akan bertambah ketika aku berhasil menemukan belahan jiwaku atau pasangan hidupku. Setelah bertemu dengan sosoknya, aku bahkan rela melakukan segala hal, didukung oleh faktor ungkapan cintaku padanya. Aku pun tak segan-segan menggantungkan bahagiaku padanya. Singkat kata, hidupku tanpanya adalah kosong. Kehadiran dan kabarnya menjadi hal yang paling aku nanti-nantikan di tiap harinya.
Namun nyatanya, ungkapan "people come and go" sangat relate dalam hidupku. Keputusanku untuk menggantungkan bahagia pada seseorang adalah keputusan yang salah besar. Kepergian orang tersebut dalam hidupku hanya akan membuatku terpuruk dan jatuh. Bahagiakupun ikut terenggut bersama kepergiannya. Tentu saja, itu bukanlah hubungan yang sehat. Sehingga dalam hal ini, lebih tepat bagiku untuk sendiri dulu. Mengevaluasi caraku memandang diri sendiri.
Aku belajar bahwa bahagia itu datangnya dari diri sendiri, bukan dari orang lain. Dengan adanya orang lain dalam hidupku, mungkin aku bisa jadi lebih bahagia. Namun jangan sampai ketika orang itu pergi dari hidup kita, kita jadi merasa ada yang kurang dalam diri ini. Hubungan yang baik itu akan terjadi apabila kedua belah pihak telah merasa bahagia dan puas terlebih dahulu. Bukan malah menggantungkan hal tersebut pada diri pasangannya. Aku jadi teringat pada perumpamaan air dalam gelas. Ada baiknya, dua orang yang terlibat dalam hubungan cinta adalah orang yang gelasnya telah terisi penuh dengan air. Bayangkan saja, apabila pasangan kita membawa gelas yang kosong. Air yang kita beri untuknya memang akan membuat gelasnya penuh. Tapi ujungnya, kita kehabisan air untuk diri sendiri. Hubungan yang baik akan terjadi apabila kita bisa saling memberi. Bukan hanya satu pihak yang rutin memberi, namun pihak lainnya asyik menerima.
Mencari pasangan hidup adalah perjalanan panjang, yang jangan sampai kita akhiri karena lelah mencari yang baru atau yang lain. Salah keputusan hanya akan membuat sisa hidupmu merana. Hubungan yang harus terhenti di tengah jalan memang tidaklah mudah untuk dihadapi. Namun apalah artinya itu, dibanding harus menjalani sisa hidup dengan orang yang tidak bisa membuatmu bahagia. Dan mungkin kedepannya, bukan saja hidupmu yang tidak bahagia, namun hidup anak-anakmu juga. Jangan bertahan hanya karena kamu yakin bahwa orang tersebut bisa berubah setelah menikah. Nyatanya, lebih banyak yang menunjukkan sisi aslinya begitu menikah. Bisa jadi itu adalah sisinya yang kelam, yang bahkan tak pernah muncul saat masa pendekatan dan pacaran.
Pesan yang begitu melekat dari buku yang kubaca adalah temukan alasan yang membuatmu ingin menikah. Dengan begitu, kamu bisa tahu, sosok pasangan seperti apakah yang kamu inginkan. Sosok pasangan yang mampu mendukung rencana-rencanamu di masa depan, dan tak membuatku harus merelakan panggilan hidupmu di mata Tuhan. Carilah pasangan tersebut dengan bijak, seperti saat kau tengah memilih sepatu yang nyaman untuk dipakai sehari-hari. Tak perlu buru-buru, seperti tengah dikejar sesuatu.
Penantian akan pasangan hidup memanglah tidak mudah, namun worth it. Sampai saatnya tiba, tetaplah berbenah menjadi pribadi yang lebih baik. Berkarya dan pergunakanlah waktumu sebaik mungkin. Yakinlah, semua akan indah di waktu dan dengan orang yang telah Tuhan tetapkan.
Tapi jangan lupa ya! Berbahagialah ;)
Namun nyatanya, tak ada perjalanan yang semulus jalan tol. Hubungan yang kukira akan berakhir indah, justru kandas di tengah jalan. Sungguh, aku berharap bisa mendampinginya hingga akhir. Tapi ternyata bukan aku lagi yang dia inginkan untuk menjadi pendamping seumur hidup. Dan, tak mengapa. Hubungan memang harus dua arah, bukan? Kalau hanya aku yang yakin, sedangkan dia tak yakin, apa lagi yang harus kuperbuat? Aku bukanlah sosok yang bisa membuatnya berubah dalam sekejap mata. Atau mungkin, tak cukup membuatnya begitu menginginkanku.
Untungnya itu hanya kisah lama. Kisah lama yang cukup mewarnai perjalanan panjangku. Yang mungkin tak akan bisa kulupa seumur hidup. Setidaknya memorinya akan selalu menghantui kepalaku. Bukan memori tentang orangnya, tapi pengalaman berharganya. Pengalaman berharga yang cukup mendorongku untuk mengevaluasi kisah cintaku, yang bisa kugambarkan sebagai labirin tanpa ujung.
Bicara soal mengevaluasi kisah cinta, akhirnya aku memutuskan untuk mengawali kembali hobiku yang telah lama mati. Yup, aku berusaha untuk membaca buku lagi. Kala itu, hobiku adalah membaca novel. Namun kini, buku soal memilih pasangan hiduplah yang kubaca. Dibanding berusaha mengisi diri dengan khayalan tentang kisah cinta bak dongeng terindah, aku memutuskan untuk memandang perjalanan cintaku sebagai pemilihan yang bijak karena pengaruhnya akan masa depanku.
Aku selalu berpikir bahwa bahagiaku akan bertambah ketika aku berhasil menemukan belahan jiwaku atau pasangan hidupku. Setelah bertemu dengan sosoknya, aku bahkan rela melakukan segala hal, didukung oleh faktor ungkapan cintaku padanya. Aku pun tak segan-segan menggantungkan bahagiaku padanya. Singkat kata, hidupku tanpanya adalah kosong. Kehadiran dan kabarnya menjadi hal yang paling aku nanti-nantikan di tiap harinya.
Namun nyatanya, ungkapan "people come and go" sangat relate dalam hidupku. Keputusanku untuk menggantungkan bahagia pada seseorang adalah keputusan yang salah besar. Kepergian orang tersebut dalam hidupku hanya akan membuatku terpuruk dan jatuh. Bahagiakupun ikut terenggut bersama kepergiannya. Tentu saja, itu bukanlah hubungan yang sehat. Sehingga dalam hal ini, lebih tepat bagiku untuk sendiri dulu. Mengevaluasi caraku memandang diri sendiri.
Aku belajar bahwa bahagia itu datangnya dari diri sendiri, bukan dari orang lain. Dengan adanya orang lain dalam hidupku, mungkin aku bisa jadi lebih bahagia. Namun jangan sampai ketika orang itu pergi dari hidup kita, kita jadi merasa ada yang kurang dalam diri ini. Hubungan yang baik itu akan terjadi apabila kedua belah pihak telah merasa bahagia dan puas terlebih dahulu. Bukan malah menggantungkan hal tersebut pada diri pasangannya. Aku jadi teringat pada perumpamaan air dalam gelas. Ada baiknya, dua orang yang terlibat dalam hubungan cinta adalah orang yang gelasnya telah terisi penuh dengan air. Bayangkan saja, apabila pasangan kita membawa gelas yang kosong. Air yang kita beri untuknya memang akan membuat gelasnya penuh. Tapi ujungnya, kita kehabisan air untuk diri sendiri. Hubungan yang baik akan terjadi apabila kita bisa saling memberi. Bukan hanya satu pihak yang rutin memberi, namun pihak lainnya asyik menerima.
Mencari pasangan hidup adalah perjalanan panjang, yang jangan sampai kita akhiri karena lelah mencari yang baru atau yang lain. Salah keputusan hanya akan membuat sisa hidupmu merana. Hubungan yang harus terhenti di tengah jalan memang tidaklah mudah untuk dihadapi. Namun apalah artinya itu, dibanding harus menjalani sisa hidup dengan orang yang tidak bisa membuatmu bahagia. Dan mungkin kedepannya, bukan saja hidupmu yang tidak bahagia, namun hidup anak-anakmu juga. Jangan bertahan hanya karena kamu yakin bahwa orang tersebut bisa berubah setelah menikah. Nyatanya, lebih banyak yang menunjukkan sisi aslinya begitu menikah. Bisa jadi itu adalah sisinya yang kelam, yang bahkan tak pernah muncul saat masa pendekatan dan pacaran.
Pesan yang begitu melekat dari buku yang kubaca adalah temukan alasan yang membuatmu ingin menikah. Dengan begitu, kamu bisa tahu, sosok pasangan seperti apakah yang kamu inginkan. Sosok pasangan yang mampu mendukung rencana-rencanamu di masa depan, dan tak membuatku harus merelakan panggilan hidupmu di mata Tuhan. Carilah pasangan tersebut dengan bijak, seperti saat kau tengah memilih sepatu yang nyaman untuk dipakai sehari-hari. Tak perlu buru-buru, seperti tengah dikejar sesuatu.
Penantian akan pasangan hidup memanglah tidak mudah, namun worth it. Sampai saatnya tiba, tetaplah berbenah menjadi pribadi yang lebih baik. Berkarya dan pergunakanlah waktumu sebaik mungkin. Yakinlah, semua akan indah di waktu dan dengan orang yang telah Tuhan tetapkan.
Tapi jangan lupa ya! Berbahagialah ;)
Komentar
Posting Komentar