“If
you can’t fly then run, if you can’t run then walk, if you can’t walk then
crawl, but whatever you do you have to keep moving forward.”
Martin
Luther King Jr.
Hidup ini penuh
dengan tantangan. Mungkin kita merasa bahwa cobaan demi cobaan datang
bertubi-tubi dalam kehidupan kita. Kita merasa telah tiba di suatu titik yang
sangat berat dan tak mudah untuk dilalui. Pada saat itulah mungkin kata
menyerah akan timbul dalam pikiran kita dan seolah menjadi jalan keluar yang
terbaik bagi setiap permasalahan. Namun, apakah kita rela membiarkan usaha yang
kita lakukan selama ini berakhir dengan sia-sia? Perlu kita ketahui bahwa masih
ada pilihan lain yang terbuka bagi kita, yakni untuk berjuang dan mengakhirinya
dengan baik. Perjuangan itulah yang dapat saya temukan dalam sosok Regina
Ivanova Pollapa.
Ketika kita mendengar
namanya, mungkin kita akan mengenalnya sebagai juara pertama dari salah satu
ajang pencarian bakat ternama di Indonesia. Atau mungkin ada juga sebagian
besar di antara kita yang lebih mengenalnya sebagai salah satu penyanyi terbaik
yang dimiliki Indonesia. Namun, apakah kita tahu perjuangan yang harus
ditempuhnya dibalik kesuksesan yang dimilikinya sekarang? Perempuan kelahiran
Jakarta, 4 Desember 1985 ini tidak meraih mimpinya secara instan. Banyak sekali
lika-liku yang harus ditempuhnya, tapi dia memilih untuk tetap bertahan dan terus
berjuang.
Berdasarkan apa yang
ditulisnya dalam akun media sosialnya, ia memulai karirnya dengan menjadi
penyanyi dari café ke café yang hanya dibayar sejumlah Rp
45.000. Pada saat itu, ia hanya dipandang sebelah mata oleh orang lain dan
bahkan di bully karena kondisi fisik
yang dimilikinya. Namun akhirnya, perjuangan itupun membuahkan hasil walau ia
harus menunggu selama delapan tahun untuk dapat sampai pada titik itu. Tepat
pada audisi yang ketujuh, season
ketujuh, tanggal tujuh, dan bulan tujuh di tahun 2012, ia berhasil lolos dan
masuk sebagai salah satu finalist dalam
audisi pencarian bakat yang diikutinya. Alhasil, perjuangan yang dilaluinya-pun
mencapai klimaksnya ketika ia berhasil meraih juara pertama dalam ajang
tersebut.
Kisah darinya-lah
yang membuat saya belajar tentang arti dari sebuah perjuangan. Mungkin apabila
saya berada di posisinya, saya akan menyerah begitu saja, namun ia memilih
untuk tetap bertahan dan berjuang. Delapan tahun bukanlah waktu yang mudah
untuk dilewati. Pasti ada begitu banyak proses yang harus dilaluinya dan
tentulah proses tersebut tak semudah dan seindah yang kita bayangkan. Namun, satu hal yang harus kita ingat, bahwa kita tak
akan pernah tahu kapan perjuangan itu akan mencapai puncaknya. Bisa jadi
ketika kita mulai lelah dan menyerah, puncak itu sebenarnya telah berada tepat
di depan kita dan tinggal selangkah lagi untuk mencapainya. Jadi, teruskanlah
perjuangan yang telah kita tempuh hingga kita mencapai puncaknya! Yakinlah
bahwa apa yang kita lakukan tak akan pernah berakhir dengan sia-sia. Sang
Pencipta kita tak pernah tidur, Ia selalu mendengar setiap doa yang kita
panjatkan pada-Nya. Kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat yang telah
ditetapkan oleh-Nya, sambil terus berjuang, pantang menyerah.
Pelajaran berharga
lain yang mampu saya peroleh dari sosok seorang Regina adalah untuk menikmati
setiap proses yang ada karena proses itulah yang mampu membentuk diri kita.
Pencapaian yang kita raih tanpa melalui sebuah proses, mungkin akan membuat
kita merasa diri paling hebat dan akhirnya kita menjadi sombong dan lupa pada
Sang Pencipta. Namun, melalui proses itulah, Sang Pencipta mengingatkan kita
bahwa ketika kita mampu meraih mimpi kita, kita bukan meraihnya karena
kehebatan dan kemampuan yang kita miliki. Semua pencapaian kita yang indah itu
adalah hadiah dari Sang Pencipta yang diberikan-Nya untuk kita.
Terakhir, satu hal
yang mampu membuat saya tetap mengagumi Regina sampai saat ini adalah karena kerendah-hatiannya.
Dari sosoknya, biarlah kita tetap mengingat bahwa setinggi apapun pencapaian
yang telah kita raih pada saat ini, kita bukanlah siapa-siapa tanpa adanya campur
tangan Tuhan yang mengasihi kita. Akhir kata, kemenangan adalah milik
orang-orang yang berdoa dan berjuang – Regina Ivanova.
Komentar
Posting Komentar